Wednesday, January 03, 2018

Village and Heritage Tour

Hari pertama di tahun ini, serunya bisa nemenin nge-trip di seputar kawasan Borobudur. Program trip dimulai pukul 08.00 pagi, berangkat dari Yogyakarta menuju Borobudur. Jalanan masih sepi di pagi hari, maka perjalanan kami tempuh dalam waktu 1,5 jam.

Vihara Mendut
Destinasi pertama ke Candi Mendut. Tetapi, sebelum menuju ke loket tiket, ada sebuah Vihara cantik yang membuat kami ingin melihat dan masuk. Vihara Mendut namanya. Sebelumnya memang tertutup untuk umum, namun sekarang membuka diri untuk pengunjung. Kami melihat ada seorang Biksu yang sedang membersihkan lingkungan Vihara. Tentu saja bisa berfoto-foto bebas disana, tetapi ingat, harus mengindahkan etika karena vihara adalah rumah ibadah. Misalnya, ada larangan untuk tidak memasuki kompleks tertentu atau tidak menaiki bangunan, melepas alas kaki dan sebagainya.
Banyak kolam-kolam dipenuhi ikan dan bunga teratai yang sungguh cantik. Di beberapa sudut, patung-patung dilengkapi dengan bunga segar. Detail arsitektur dan landscape taman nya sangat indah. Ambiencenya sangat homy dan peaceful.










 


Vihara Mendut

Puas di Vihara Mendut, kami melanjutkan langkah ke Candi Mendut, hanya berjarak kurang lebih 20 meter. Tiket masuk hanya Rp 3500,- per orang. Di candi Mendut banyak cerita relief yang disimbolkan dengan binatang (angsa, kura-kura, gajah, singa dll). Menariknya disini, ada sebuah pohon Bodhi yang sudah tua dan cukup besar. Pohon Bodhi menyerupai pohon Beringin. Berukuran besar dan akarnya menjulur-julur dari atas. Daun pohon Bodhi berukuran lebih besar daripada pohon Beringin dan bisa dibuat karya kerajinan. Bagi penganut agama Budha, pohon Bodhi mendapat tempat tersendiri karena Sidharta Gautama lahir dibawah pohon Bodhi. Yang menarik lainnya, masih dalam halaman Candi Mendut, ternyata ditemukan candi-candi baru yang masih dalam tahap konservasi dan penataan.
Candi Mendut

Pohon Bodhi di Candi Mendut











Destinasi selanjutnya, Candi Pawon. Candinya berukuran lebih kecil. Tiket masuk sama dengan Candi Mendut Rp 3.500,-/orang. Karena  lokasinya agak nyempil dan candinya kecil, mungkin banyak wisatawan akan melewatkan candi ini.

Diseberang candi, di ujung jalan ternyata ada warung kopi Luwak. Di depan warung, biji-biji kopi dijemur. Biji kopi yang baru saja keluar dari kotoran Luwak atau biji kopi yang sudah bersih. Staf warung menyapa dengan ramah dan menjelaskan tentang asal kopi. "Katanya ada Luwaknya beneran mbak?", tanyaku penasaran. "Iya ada, di dalam," sahutnya.

Lalu kami menuju belakang warung. Disana ada beberapa binatang Luwak baru tidur (karena pada malam hari mereka bangun) dan ada beberapa pohon kopi. Lucunya, nama-nama Luwak dinamai dengan nama Ijem, Minah, Popo dan sejenisnya hahaha. Luwak-luwak disitu dipelihara hanya sebagai gimmick buat pengunjung warung. Karena banyak orang yang belum mengetahui binatang Luwak seperti apa. Sehari-hari mereka makan buah-buahan.

Saya belum sempat ngerasain kopinya, ada arabica dan robusta. Pas dicium bau kopinya, saya lebih suka yang arabica. Kopi Luwak yang didapatkan di warung ini dari binatang Luwak liar di Wonosobo. Sebagai informasi, kopi Luwak (biji atau bubuk) disini dijual Rp 400rb/1 ons. Wow!

Yuk lanjut trip kita, menuju ke showroom workshop batik tulis Borobudur. Disini motif batik yang digambarkan diambil dari motif relief Candi Mendut dan Pawon. Disini diajari membatik hingga pewarnaan, kurang lebih 1 jam. Sambil membatik, kita bisa dengerin cerita-cerita penduduk setempat tentang potensi wisata di kawasan Borobudur. Asik kan!

Hmm jam sudah menunjukkan pukul 12.15 siang. Saatnya makan siang. Salah satu wisata kuliner tujuan kami di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Borobudur. Dan akan ada 20 Balkondes di seputaran Borobudur, yang memiliki karakter kuliner juga dipadukan wisata alam masing-masing. Waaahh, bisa panjang nih next trip kita hehe. Ide Balkondes ini tercetus dari RI 1, Bapak Jokowi. Ke 20 Balkondes tersebut masing-masing dibiayai oleh BUMN, menyewa tanah kas desa selama 20 tahun. Keberadaan Balkondes ini adalah upaya pemberdayaan ekonomi setempat. Dan baru ada di kawasan Borobudur saja. Hebat! Di Balkondes Borobudur disajikan menu lokal, pertunjukan karawitan (kita juga bisa ikutan main lho), wisata andong, juga toko souvenir. Di depan Balkondes Borobudur, tersedia homestay dengan arsitektur yang nyaman bila kita ingin bermalam.

So sudah kenyang,  mari lanjut ke destinasi terakhir, di dusun Klipoh. Kurang lebih 5 menit dari Balkondes Borobudur. Dusun ini dikenal karena sebagian besar penduduknya yang membuat gerabah atau keramik. Namun kita tidak bisa bawa pulang langsung keramik buatan kita, karena harus menunggu kering dan melalui proses pembakaran (kurang lebih makan waktu 3 hari). Tapi jangan khawatir, hasil karya kita bisa dikirim ke alamat kok.

Sudah di akhir trip hari ini (pukul 14.00 WIB), rasanya belum puas ya. Ternyata kawasan Borobudur menyimpan banyak aset wisata yang asik dan menarik! Sebaiknya kita lanjutkan di trip berikutnya. Setuju?!

Sunday, December 31, 2017

TOXIC: Pameran Sulam dan Kristik


TOXIC, Pameran ke 10 Kelompok Menyulam Seven Needles

YOGYAKARTA-Kelompok Menyulam Seven Needles kembali mengadakan pameran sulamnya yang ke 10. Pameran ini akan diadakan pada tanggal 6 sampai dengan tanggal 15 Januari 2018 di Galeri Kelas Pagi Yogya, JL Brigjen Katamso No. 48 Yogyakarta.

Pameran kali ini berjudul TOXIC, yang akan menggambarkan bagaimana para peserta telah teracuni dan diracuni kegiatan menyulam tangan. Pameran akan diikuti oleh 18 peserta yang akan memamerkan kurang lebih 70 karya sulam tangan dengan berbagai tema dan bentuk dan media.

Pameran akan dibuka pada 6 Januari 2018, pukul 16.00. Selanjutnya pada 7-15 Januari 2018, pameran akan digelar pada pukul 11.00-21.00, di Galeri Kelas Pagi Yogya, JL Brigjen Katamso No.48 Yogyakarta.

Menyulam bukan hanya pekerjaan nenek-nenek

Siapapun bisa mempelajari cara menyulam tangan, baik itu anak-anak, anak muda, orang dewasa, laki-laki maupun perempuan.

“Tujuan kami mengadakan pameran ini adalah juga untuk memperkenalkan kegiatan sulam tangan kepada anak-anak muda. Bahwa menyulam bukan melulu pekerjaan nenek-nenek atau oma-oma saja,” kata pendiri Seven Needles, Kristi Harjoseputro. Selain mengisi waktu luang, menyulam juga bisa menambah uang belanja.

“Seturut berjalan nya waktu, pameran di sana, pameran di sini, workshop di sana workshop di sini, sampailah kami disini, di pameran kami yang  ke 10,” kata pendiri Seven Needles, Kristi Harjoseputro.

Setelah berkali-kali pameran, makin lama menyulam makin diminati. “Dan Puji Tuhan, apa yang diharapkan pada awal dibentuknya kelompok ini tercapai, menyulam sudah mulai banyak dikerjakan oleh anak-anak muda, baik laki-laki atau perempuan. Ke depannya kami berharap kelompok Seven Needles ini bisa bertambah solid, berjaya, makin dikenal dan tetap eksis di kancah kegiatan menyulam tangan khususnya di Jogja,” kata Kristi.

Tentang Kelompok Menyulam Seven Needles
Seven Needles adalah kelompok bebas menyulam yang dibentuk oleh artis sulam Kristi Harjoseputro pada November  2009. Saat itu, peserta yang bergabung  7 orang dan memamerkan sekitar 30 karya.

Berikut ini pameran yang pernah diadakan / diikuti oleh Seven Needles:
1.“Seven Needles” di (ex) Karta Pustaka pada 8-13 September 2009
2. “The Power of Women in Art" di Purna Budaya pada 23 April-2 Mei 2011, The Journey
3. “Craft Carnifal Magic Fingers Syndicate" di Bentara Budaya pada 22-23 Oktober 2011
4.  Kelas pagi Yogya  17 Jan 2013
5. “Pasar kutu market & Kopi Keliling vol6" di Kedai Kebun Forum, April 2013
6. "Follow the Needles" di Tirana Art House pada 1 Mei-27 Mei 2013
7.  Jimbaran Resto  November  2013 - Januari 2004, End Year Exhibition
8.   Ledre café dan TBY (Festifal Film Dokumenter)
9. “Colorful" di Tirana Art House, 24 Feb-22 Maret 2016

Tak hanya pameran, Seven Needles juga mengajarkan sulam tangan melalui workshop di hampir semua pamerannya.
      Hampir di semua pameran selalu ada workshop, dengan peserta terbanyak sampai 22 orang.
      Menyulam untuk anak: Pernah mengadakan workshop menyulam untuk anak-anak, dengan peserta 7 anak.
      SURABAYA: Workshop bersama komunitas My Sister Fingers pada Juli 2016 dengan peserta 15 orang
      Workshop di Pasar Buah Tangan #4 pada 12 November 2016, peserta 14 orang.
      JAYAPURA:  Mengajar sulam tangan untuk mama-mama pedagang di Pasar Mama Papua di Jayapura, Desember 2016, sebagai fasilitator dari PokJa Papua (mitra BUMN).

Sunday, December 10, 2017

Lifetime Achievement Award 2017

Lifetime Achievement Award 2017
Yayasan Biennale Yogyakarta – Biennale Jogja

Terkait penyelenggaraan Jogja Biennale, Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) memberikan penghargaan kepada seniman yang memiliki dedikasi, komitmen, kontribusi, prestasi, dan reputasi unggul dalam profesinya.  Kriteria penerima penghargaan ini dapat dikerucutkan menjadi sesosok yang memiliki kontribusi dan pengaruh besar pada dunia seni rupa di Yogyakarta, di Indonesia, dan di level internasional, utamanya pada aspek kreativitas, pemikiran, dan kontribusi pada kehidupan seni/seni rupa. Sesosok tersebut juga telah aktif di dunia seni/ seni rupa selama lebih dari 25 tahun.

Penghargaan ini disebut Lifetime Achievement Award (LAA), diberikan pertama kali pada tahun 2005 bersamaan dengan penyelenggaraan Jogja Biennale VIII. Penerimanya G. Sidharta Soegijo dan Sukasman. Berturut-turut kemudian pada 2007, penyelenggaraan Biennale Jogja IX, penerimanya Profesor Sedarso Sp., M.A., dan Edhi Soenarso. Pada 2009, penyelenggaraan Biennale Jogja X, penerimanya Kartika Affandi dan Soenarto Pr. Pada 2011, penyelenggaraan Biennale Jogja XI, penerimanya Djokopekik. Pada 2013, penyelenggaraan Biennale Jogja XII, penerimanya Moelyono. Pada 2015, penyelenggaraan Biennale Jogja XIII, penerimanya Jim Supangkat.



Pada tahun 2017, bersamaan dengan penyelenggaraan Biennale Jogja XIV “Equator”, Lifetime Achievement Award dianugerahkan kepada dua orang yang kami anggap memiliki dan memenuhi kriteria seperti sudah disebutkan tadi. Kedua orang ini kami pertemukan dalam satu panggung penghargaan dengan pencapaian berbeda. Yang pertama, Wiyadi (Drs), menjelang 70 tahun, seorang guru seni rupa yang mengajar di SSRI/SMSR Yogyakarta, kini SMK, dan sudah pensiun, Wiyadi dalam segala cuaca, terus menekuni melukis dengan tema Wayang Beber, pada kanvas dan kaca, dalam berbagai ukuran. Wiyadi pernah menerima penghargaan sebagai Pakar Seni Tradisional Wayang Beber dari Universitas Negeri Yogyakarta (1994), dan penghargaan dari Sinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (1992, 1993). Wiyadi menularkan ketekunan melukis ini pada murid-muridnya, dan sejak Pak Wiyadi – demikian ia biasa disapa – pensiun, maka sekolah itu (SMSR/SMK) tak memiliki guru yang memiliki kemampuan seperti dirinya. Karya-karya Wiyadi menyodorkan daya pikat yang demikian kuat, karena ketekunannya pada seni tradisional.




Yang kedua, Sunaryo (Drs), juga menjelang 70 tahun, perupa yang berkarya seni lukis dan seni patung, mengajar (dan sudah pensiun) di FSRD ITB Bandung. Sunaryo menjelajahi medium, teknik, dan presentasi, ulang-alik antara dwimatra dan trimatra. Berbagai penghargaan diterima dari berbagai institusi dalam dan luar negeri. Penghargaan terbaru sebelum LAA 2017 adalah Penghargaan dari Akademi Jakarta yang diterimakan pada pertengahan November 2017 yang baru lalu. Tak hanya berkarya seni, Sunaryo juga menginisiasi membangun ruang publik untuk pameran, diskusi, dan pertunjukan seni yang disebut Selasar Seni Sunaryo, dan Wot Watu, keduanya di wilayah Dago Pakar, Bandung. Perupa muda, pemikir, dan pengkaji seni rupa dapat melakukan gladi kreativitas dan pemikirannya pada ruang publik seni tersebut.

Dapat dikatakan kedua orang ini, Wiyadi dan Sunaryo,  sampai pada pencapaian berupa ‘menginspirasi generasi muda’ dalam aspek pencapaian kreativitas, pemikiran, dan keberpihakannya pada perkembangan penciptaan dan pemikiran seni/seni rupa.

(Yayasan Binnale Yogya)
Suwarno Wisetrotomo (Ketua), Butet Kartaredjasa, Eko Prawoto, Oei Hong Djien, Anggi Minarni, Dyan Anggraeni, Mella Jaarsma, Ong Harry Wahyu, Kuss Indarto, Nindityo Adi Purnomo (Anggota)

Thursday, October 12, 2017

Karya-karya Filosofis sang Rocker

Dia adalah Cahaya Novan, lelaki bujang kelahiran 21 November 1987. Lahir dan besar di Sumberan Ngestiharjo Yogyakarta, sebuah kampung yang padat penduduk dan kental dengan kekerabatan. Novan tentu saja tidak bisa meninggalkan perannya sebagai pemuda kampung. Ia sangat supel bergaul dengan warga. Sementara dalam berkesenian, Novan adalah seorang otodidak. Lulusan SMA Taman Madya Yogyakarta ini terjun di bidang seni karena panggilan jiwanya. Mengawali pameran pertamanya di tahun 2012. Tercatat sudah 3 kali pameran tunggal digelarnya, dan tahun 2017 ini menjadi kali ke empat. Genap 5 tahun berkesenian, Novan tentu saja masih mengolah berbagai media, ia tidak melulu menggunakan media dua dimensi. Maka tak heran, kita akan menemukan artefak karya-karyanya melalui performance art, video, seni grafis dan instalasi. Benang merah dari semuanya itu adalah tema tentang hidup, kehidupan dan kematian yang masih konsisten hingga kini. Di pikirannya berkecamuk pemahaman dan filosofi tentang hidup dan kematian. Tentu saja topik ini akan terus menerus menjadi hal yang misterius dan menarik untuk dibahas dengan versi dan sudut pandang beragam.

Bila Anda lihat foto pencitraan dirinya, akan terasa berbeda ketika bertemu langsung dengannya. Dari sisi penampilan ia terkesan garang, memakai baju hitam, terkesan misterius, rambut disemir di bagian tertentu dan dicukur tipis (skin head) di sisi kanan kiri. Novan juga mengakui penampilannya sangat rock n roll. Namun demikian, ingat kata pepatah, “don’t judge the book by its cover”. Nah demikian juga dengan Novan, dibalik penampilannya yang demikian, Novan ini sangatlah religius. Novan cukup aktif menginovasi kegiatan positif dengan para pemuda di kampungnya. Seturut pengakuannya, Novan juga sering melakukan ritual menyepi untuk menenangkan pikiran. Bahkan, akunya, dia lebih sering mendapat ide berkarya usai menyepi tersebut. Sebagai orang Jawa, unsur-unsur ilmu kejawen juga mewarnai nafas kesehariannya. Tokoh wayang, Togog (Batara Antaga) sering menginspirasi menjadi figur utama dalam karya-karyanya.

Semua latar belakang yang saya sebutkan diatas, sadar atau tidak akan terpapar dalam setiap karya-karyanya. Lihat dalam catatan ke empat pameran tunggal Novan sebelumnya, semuanya mengacu pada filosofi tentang kehidupan: Owah (2016), Roh Kesepian (2015), Ojo Dumeh & Sumsuman (2013). Demikian juga untuk pameran tunggalnya kali ini, yang ia beri tajuk “Rumongso Rumangsanono Rumangsani” (Merasa, Rasakanlah, Merasakan). Sesuai perjalanan usianya yang menginjak kepala tiga, Novan ingin mengingatkan akan sejatinya kita sebagai manusia. Manusia hidup karena apa dan bagaimana dengan hidup kita. Janganlah menjadi manusia yang merugi, hanya mengejar urusan gemerlap duniawi. Ingat bahwa setiap manusia akan sampai pada titik kematian.

Ikon
Bila kita amati detail ikon-ikon yang digunakan Novan, ada dua hal utama yang bisa diperhatikan. Pertama penggunaan huruf T (dengan ekor/bagian bawah menyamping). T disini diartikan sebagai Togog (Batara Antaga). Seperti yang saya sampaikan pada paragraf diatas, tokoh ini memang sangat menginspirasi Novan dalam karyanya. Berikut sedikit cerita tentang tokoh Togog. Batara Antaga (Togog) bersama Batara Sarawita (Bilung) dan Batara Ismaya (Semar) diutus turun ke marcapada (dunia manusia) untuk menjadi penasihat, dan pamong pembisik makna sejati kehidupan dan kebajikan pada manusia. Pada akhirnya Semar dipilih sebagai pamong untuk para satria berwatak baik (Pandawa) dan Togog dan Bilung diutus sebagai pamong untuk para satria dengan watak buruk (sumber: Wikipedia). Masih di huruf T, di bagian tengah digambarkan satu mata. Mata sebagai pesan bahwa kita harus melihat pada satu tujuan. Tujuan tersebut adalah hidup kita sebenarnya.

Kedua, ikon berikutnya adalah detail motif batik mega mendung ala Cirebon. Kekhasan motif mega mendung tidak saja pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas, tetapi juga nilai-nilai filosofi  yang terkandung dan sejarah munculnya motif tersebut sebagai hasil akulturasi budaya China dan Cirebon (sumber: Wikipedia). Setelah ditelusuri saat obrolan ringan bersama Novan, orang tua Novan ternyata seorang pembatik. Saat saya bertandang ke studionya, sisa-sisa kejayaan toko batik motif Cirebon-an ini masih bisa kita jumpai di sekitar kampung tempat Novan tinggal. Maka tanpa disadari, Novan sering corat-coret, menggambar sketsa diatas kertas motif khas dan bersejarah ini.
Manequin
Pada pameran bersama sebelumnya, “Hastag Kazet’El” (2017, Bentara Budaya Yogyakarta) Novan telah menggunakan manekin. Maka di pameran ini, Novan mengolah media ini sebagai fokus utama di ruang pamer dan mengeksplorasi lebih kuat. Pemilihan penggunaan manekin ini juga merupakan respon terhadap ruang pamer yang Novan gunakan dalam pameran tunggalnya kali ini. Novan memilih Tirana House sebagai ruang presentasinya (diajukan sekitar bulan Mei 2017), dimana Tirana House dikenal sebagai butik fashion dengan beberapa brand label didalamnya. Manekin memang sangat dekat dengan kosakata fashion. Manekin juga sering kita jumpai sebagai alat peraga pakaian yang sedang ditawarkan. Meskipun saat ini ruang pamer di Tirana House mengalami diversifikasi konsep menjadi art house & kitchen (mulai November 2017), namun demikian brand image Tirana House sebagai butik branded stocklot masih lekat di publik. Pameran tunggal Cahaya Novan akan menjadi penanda perdana dimana store Tirana House sebagai butik, ditambah art house & kitchen mulai menyapa publik Yogyakarta.



Novan menyiapkan 7 buah manekin setengah badan. Pemilihan media ini  lebih sebagai simbol, tidakkah tubuh kita (manusia) hanyalah seperti manekin di mata Sang Pencipta? Tubuh kita hanyalah alat peraga, sejatinya kita itu roh. Ketujuh manekin ini merupakan representasi dari manusia sejak lahir hingga mati. Kita bisa melihat bagaimana pemilihan warna dan distorsi atas manekin tersebut menggambarkan siklus hidup manusia di dunia. Saat kanak-kanak dan remaja, Novan memilih warna cerah menyergap mata, sesuai semangat dan jiwa kemudaan. Sementara menjelang menua, ditandai distorsi pada bagian tubuh manekin dan warna yang memudar. Dari ketujuh manekin tersebut, hanya ada satu manekin berkarakter laki-laki. Menurut Novan, dimunculkannya manekin laki-laki disini sebagai penyeimbang. Karena hidup ada laki-laki dan perempuan, suka dan duka, senang dan susah. Mengapa hanya satu diantara tujuh? Karena realitas saat ini populasi laki-laki lebih sedikit daripada perempuan. Apakah Novan juga sedang mengkritisi perihal poligami? Entahlah.

Selamat menikmati karya-karya Cahaya Novan. Selamat datang di Tirana House dengan konsep art house & kitchen. Semoga saling menginspirasi.

Nunuk Ambarwati

Saturday, September 09, 2017

Biennale Jogja XIV - Equator #4




PRESS RELEASE
Yogyakarta, 6 September 2017

BIENNALE JOGJA XIV Equator #4: STAGE of HOPELESSNESS
Indonesia Bertemu Brasil
2 November – 10 Desember 2017

BIENNALE JOGJA XIV telah mengumumkan tema program dan kuratorial untuk seri Equator keempat yang akan diselenggarakan pada tanggal 2 November hingga 10 Desember 2017 di JNM (Jogja National Museum), Yogyakarta. Dengan arahan dari Dodo Hartoko sebagai Direktur dan Pius Sigit Kuncoro sebagai Kurator, BJ XIV Equator #4 mengumumkan tema utama biennale tahun ini: STAGE of HOPELESSNESS, yang akan direspons dalam empat program utama Biennale, yakni:
1. Festival Equator (10 Oktober – 2 November 2017)
2. Main Exhibition (2 November – 10 Desember 2017)
3. Parallel Events (4 November – 7 Desember 2017)
4. Biennale Forum (4 November – 7 Desember 2017).


Pada kunjungan pertama ke Brasil pada November 2016, Tim Biennale Jogja menemukan momen estetik dalam São Paulo Biennial ke-32, Live Uncertainty. Perhelatan ini tidak hanya merefleksikan persoalan ketidakstabilan politik ekonomi karena momen traumatik dari pergantian kekuasaan di Brazil yang terjadi pada tahun sebelumnya, tetapi juga mengetengahkan persoalan ekologi sebagai pangkal persoalannya. Biennale Jogja XIV Equator #4 hendak menjawab persoalan ketidakpastian hidup yang telah membuat kita tidak berani untuk berharap karena kenyataan semakin sulit untuk dipahami. Narasi besar ini akan mengajak kita pada suatu pengalaman melintas dari ketidakpastian menuju harapan. Sembilan repertoar yang akan ditampilkan terdiri dari tiga bagian besar, yaitu Organizing Chaos sebagai tema untuk Festival Equator, Stage of Hopelessness sebagai tema untuk Main Exhibition dan Parallel Events, dan Managing Hope sebagai tema untuk Biennale Forum.


ORGANIZING CHAOS
Festival Equator: 10 Oktober – 2 November 2017
Bentuk kegiatan berupa mengintervensi ruang publik di Yogyakarta.

Menjadi tema untuk Festival Equator yang diadakan sebelum pameran utama berlangsung, Organizing Chaos adalah kumpulan kekacauan yang tertata. Keadaan yang tidak biasa dan peristiwa yang tidak lazim ditampilkan di ruang-ruang publik untuk mengingatkan kembali orang-orang pada momen-momen traumatik di masa lalu.
Tema ini menjadi pembuka bagi pagelaran Biennale kali ini. Sejumlah komunitas dan seniman akan berpartisipasi dengan cara mengintervensi ruang-ruang publik; dan sebagian dari karya tersebut akan dipanggungkan dalam pembukaan pada tanggal 2 November di JNM.


STAGE of HOPELESSNESS
Main Exhibition: 2 November – 10 Desember 2017
Pembukaan 2 November 2017
Tema ini akan dijawab oleh karya-karya seniman Indonesia dan Brasil melalui pameran utama di Jogja National Museum dan ruang-ruang pamer lain di Yogyakarta yang menjadi peserta Parallel Events. Tema ini adalah perlintasan panjang yang merupakan tahapan-tahapan psikologis dari ketidakpastian menuju harapan. Tujuh narasi yang dicakup dalam tahapan ini adalah Penyangkalan atas Kenyataan, Kemarahan pada Keadaan, Keputusasaan atas Kehilangan, Kepasrahan dalam Ketiadaan, Penghiburan atas Kehilangan, Kesadaran pada Keadaan, dan Penerimaan atas Kenyataan.
 Bersama dengan 27 seniman Indonesia terpilih, Main Exhibition akan turut diramaikan oleh 12 seniman Brasil. Tiga dari antara seniman Brasil tersebut akan mengikuti residensi selama dua bulan di Yogyakarta, dan dua seniman lainnya diharapkan akan datang dan ikut membuat karya baru untuk pameran utama di biennale. Para seniman Brasil terpilih ialah: Cinthia Marcelle dan Tiago Mata Machado, Clara Ianni, Daniel Lie, Deyson Gilbert, Ícaro Lira, Jonathas de Andrade, Leticia Ramos, Lourival Cuquinha, Rodrigo Braga, Virginia de Medeiros, Waléria Americo, dan Yuri Firmeza.

Seniman yang terpilih untuk mengikuti residensi dari tanggal 18 September hingga 9 November 2017 adalah Daniel Lie, Rodrigo Braga, dan Yuri Firmeza. Daniel Lie sendiri punya keluarga yang berasal dari Indonesia, maka ia akan tiba lebih awal untuk terlebih dahulu menemui tempat keluarganya dan selanjutnya memproduksi sebuah karya instalasi. Sementara itu, Rodrigo Braga akan menelusuri sejumlah ritual lokal serta artefak untuk membuat karya video atau instalasi dari objek-objek yang ditemukannya. Selain tiga seniman yang diundang untuk residensi, dua seniman lainnya dijadwalkan akan tiba pada bulan Oktober dan membuat karya baru untuk Biennale.

Formasi lengkap (39) seniman dalam Main Exhibition ialah:
Adi Dharma a.k.a. Stereoflow (IND), Aditya Novali (IND)
Arin Sunaryo (IND)
Cinanti “Keni” Astria Johansjah (IND)
Cinthia Marcelle dan Tiago Mata Machado (BRA)
Clara Ianni (BRA)
Daniel Lie (BRA)
Deyson Gilbert (BRA)
Faisal Habibi (IND)
Farid Stevy Asta (IND)
Gatot Pujiarto (IND)
Ícaro Lira (BRA)
Indieguerillas (IND)
Jonathas de Andrade (BRA)
Julian Abraham (IND)
Kinez Riza (IND)
Leticia Ramos (BRA)
Lourival Cuquinha (BRA)
Lugas Syllabus (IND)
Maria Indriasari (IND)
Mulyana (IND)
Narpati Awangga (IND)
Ngakan Ardana (IND)
Nurrachmat Widyasena (IND)
Patriot Mukmin (IND)
Roby Dwi Antono (IND)
Rodrigo Braga (BRA)
Sangkakala (IND)
Syaiful Aulia Garibaldi (IND)
Tattoo Merdeka (IND)
Timoteus Anggawan Kusno (IND) Virginia de Medeiros (BRA)
Waléria Americo (BRA)
Wiguna Valasara (IND)
Wisnu Auri (IND)
Yudha “Fehung” Kusuma Putera (IND)
Yunizar (IND)
Yuri Firmeza (BRA)
Zico Albaiquni (IND)


STAGE of HOPELESSNESS
Parallel Events: 28 Oktober – 3 Desember 2017

Parallel Events akan melibatkan sederet ruang seni di Yogyakarta untuk menyelenggarakan pameran terkait tema tersebut selama linimasa biennale. Sekitar 35 ruang dan kolektif seni akan bergabung dalam perhelatan ini, di antaranya Ark Galerie, PKKH Universitas Gadjah Mada, Taman Budaya Yogyakarta, Kedai Kebun Forum, Museum Dan Tanah Liat, Galeri Lorong, Ruang MES 56, dan lain-lain. Tiap-tiap ruang/kolektif seni/komunitas akan menyajikan sebuah acara (pameran, performance, lokakarya, diskusi, pemutaran film, dll.) untuk merespons satu dari tujuh tahap narasi yang diajukan untuk Main Exhibition. Peran serta ruang-ruang seni ini akan berkontribusi dalam merefleksikan cara-cara yang dapat ditempuh untuk melintas dari ketidakpastian menuju harapan bersama.


MANAGING HOPE
Biennale Forum: 4 November – 7 Desember 2017

Tentang percakapan-percakapan produktif yang dilandasi kesadaran akan hadirnya momen-momen traumatik dalam kehidupan kita sebagai momen-momen estetik yang dapat menjawab persoalan tentang ketidakpastian hidup yang dihadapi hari ini. Managing Hope adalah tema untuk Biennale Forum yang berupa serangkaian pertemuan diskusi yang memantik pembicaraan-pembicaraan yang berdasar pada kenyataan-kenyataan hari ini untuk mencari kemungkinan baru untuk masa depan yang lebih baik.

Berbeda dari format Biennale Forum periode sebelumnya, Biennale Forum kali ini mencakup berbagai ragam forum diskusi, yang lebih berfungsi sebagai semacam payung bagi terlaksananya forum diskusi dan pertukaran gagasan, baik yang diagendakan dalam forum akademis maupun ruang-ruang seni yang terlibat dalam penyelenggaraan biennale kali ini.
Narasumber :
Dodo Hartoko (Direktur Biennale Jogja XIV)
Pius Sigit Kuncoro (Kurator Biennale Jogja XIV)
Luft Adelina (Peneliti Biennale Jogja XIV)

BIENNALE JOGJA XIV EQUATOR #4
Kantor Yayasan Biennale Yogyakarta d/a Taman Budaya Yogyakarta
Jl. Sriwedani No. 1 Yogyakarta Telp. (0274) 587712
Email: biennale.equator@gmail.com / info@biennalejogja.org
Twitter | Instagram: @biennalejogja
Facebook: Biennale Jogja
Narahubung: Diendha Febrian (+62 817-271-109)



  

Finger Print Test


Tirana Art Management (Tirana House) bisa memfasilitasi program Finger Print Test atau test Sidik Jari; bekerjasama dengan Rumah Tumbuh Kembang Keluarga milik Psikolog Bunda Faza Irma​ dan Jari Potensi (JaPo).

JaPo (Jari Potensi) adalah metode pengungkapan bakat dan tendensi genetis berdasarkan analisa atas sidik jari. Adalah benar bahwa pola asuhan (nurture) dapat mempengaruhi kompetensi seseorang. Namun aspek bawaan (nature) tetaplah memiliki andil yang sangat besar dalam menentukan mudah tidaknya seseorang menguasai perihal tertentu dan menjadi hebat dalam bidang tertentu, yang kita kemudian biasa menyebutnya sebagai bakat.

Tersedia paket lengkap atau paket pilihan. Paket pilihan misalnya untuk mengetahui Kecerdasan Laten saja atau untuk mengetahui Gaya Belajar saja. Biaya paket lengkap dan paket pilihan berbeda. Silakan DM (japri) untuk info biayanya.


Fasilitas yang didapatkan:
* Layanan konsultasi free satu kali saat menerima data hasil sidik jari.
* Mendapatkan laporan analisis sidik jari berupa hardcopy dan bisa cek juga secara online.

Paket Lengkap Sidik Jari berisi analisis antara lain:
1. Kecerdasan Laten (multiple intellegence)
2. Hemisfer Otak/Penjurusan Studi SMA (pilih salah satu).
3. Kiprah Kerja (Holland Codes)
4. Rekomendasi penjurusan Perguruan Tinggi
5. Gaya diskusi
6. Modalitas belajar
7. Dll


Beberapa pertanyaan seputar Test Sidik Jari bersama JaPo:

Pada usia minimal berapa sudah bisa dilakukan test sidik jari?
Usia 6 bulan sudah bisa. Karena sidik jari terbentuk sejak kita dalam kandungan.

Berapa tingkat keakuratan test sidik jari dari JaPo ini?
Akurat 87%

Metode apa yang dipakai untuk pengambilan data sidik  jari?
Metode analisis bakat genetis dengan analisis sidik jari. Tiap sidik jari direkam datanya dengan alat seperti alat absensi.

Apakah analisis bisa berubah dalam kurun waktu tertentu?
Tidak. Analisis tidak berubah karena sudah menjadi dasar/karakter seseorang tersebut.

Bagaimana bila jumlah jari tidak lengkap atau ada jari yang tidak bisa terdeteksi karena disabilitas?
Pada dasarnya bisa dianalisis, namun akan ada beberapa kekurangan. Seperti:
a. Lebih lama prosesnya karena harus dikonsultasikan pada analisis senior JaPo dulu baru diolah.
b. Keakuratannya berkurang karena tidak langsung dari gambar sidik jari itu sendiri.
Insyallah, analisis senior JaPo sudah sangat pakar, karena sudah pernah menangani ribuan sidik jari. :)

Berapa lama proses analisis?
Setelah 10 jari diambil datanya, akan dianalisis selama kurang lebih 7-10 hari baru bisa mendapatkan hasilnya.




Info dan Minat:
Bunda Faza Irma 0812-7012-6567
Nunuk Ambarwati 081-827-7073
www.jaripotensi.com

Tuesday, August 29, 2017

Legenda Dusun Druwo

Gerbang masuk Pedukuhan Druwo
Tepatnya 19 November 2009, sehari setelah menikah, saya pindah rumah ke Dusun Druwo, Sewon, Bantul. Rumah tersebut sudah saya beli sekitar 9 bulan sebelum saya menikah. Tetapi karena masih disewa orang dan harus direnovasi, maka saya baru bisa menghuni 9 bulan setelahnya. Artinya, saya sudah tinggal di dusun tersebut kurang lebih 8 tahun ketika menulis tulisan ini. Druwo adalah sebuah dusun yang asri menurut saya. Berada di pinggiran kota Yogyakarta, sudah masuk Kabupaten Bantul. Meskipun sudah mendekati kota dan sudah banyak bermunculan perumahan modern, tetapi kehidupan masyarakatnya masih berkultur desa. Mengutamakan sosialisasi, guyub, sumbangan di sana sini, dan gotong royong. Bila tak ikut arisan atau kegiatan kampung, akan dicibir atau menjadi bahan omongan. Demikianlah kehidupan di desa.

Depan dan belakang rumah saya masih banyak lahan persawahan membentang sejauh mata memandang. Suasana dusun cenderung tenang karena tetangga masih sedikit. Bila cuaca bagus, Gunung Merapi dan Merbabu terlihat biru menjulang dengan gagahnya. Udaranya bersih, sejuk dan dingin. Jauh dari polusi, kecuali ketika ada warga yang membakar sampah. Sumber mata air juga mudah didapat hanya dengan kedalaman 2 meter, bersih dan jernih, walaupun kandungan zat besinya sedikit lebih tinggi. Bahkan saking mudahnya mendapatkan air, konon katanya, warga sulit menguburkan jenazah di dusun ini, karena menggali tanah 2 meter sudah ketemu air.

Malam pertama saya tidur di rumah Druwo, sudah mendapati hal yang janggal. Ini nanti akan menjadi awal perjalanan perkenalan saya dengan “dunia lain” di sekitar rumah dan Dusun Druwo. Saat itu, saya sulit tidur nyenyak, yah mungkin karena suasana baru pikir saya. Malam mulai merambat mendekati dini hari, antara tertidur atau bangun entahlah, saya merasa melihat sesosok besar tinggi se kusen pintu. Sosok tersebut berbulu dan belang-belang seperti macan. Tetapi dia hanya diam saja berdiri pas di pintu kamar. Saya pun diam saja. Tidak ada dialog atau perlawanan. Dan seingat saya, saya baru bisa tertidur lelap pukul 03.00 dinihari. Esok paginya saya sudah hampir lupa kejadian semalam karena tuntutan konsentrasi pekerjaan sangat tinggi waktu itu.

Dua malam berturut-turut berikutnya, ternyata saya mimpi lagi. Dalam mimpi tersebut, saya diajak jalan-jalan mengitari dusun Druwo dan diberitahu tempat-tempat mana saja yang dihuni oleh mahluk ghaib. Ternyata tidak hanya satu lokasi, tapi ada beberapa spot yang menjadi “rumah” makhluk ghaib, dan ternyata salah satunya adalah persis di depan kamar tidur saya, jarak sekitar 3 meter saja. Hmm… oke. Esok harinya, sama seperti hari berikutnya, saya kembali hectic bekerja dan tidak mempedulikan mimpi tersebut. Saya baru akan menyadarinya beberapa bulan bahkan beberapa tahun setelahnya. Intinya, 3 malam tersebut saya seperti diberi tahu dan dikenalkan siapa saja yang ada di wilayah tersebut.

Hari-hari berikutnya, bahkan hingga kini, gangguan-gangguan kecil saya rasakan. Seperti ada yang ketuk-ketuk jendela kaca rumah kami hingga membuat terbangun dari tidur, atau ada suara handle pintu yang dipaksa dibuka berulang-ulang, seperti ada orang mau masuk. Dua hal ini paling sering terjadi. Pernah juga ada teman yang datang ke rumah kami padahal rumah kosong tetapi seperti ada orang didalam rumah. Ketika bayi kecil kami baru lahir, juga banyak kejadian aneh. Tiba-tiba ada bapak tua duduk di kursi bambu depan rumah kami. Atau tiba-tiba ada ular melingkar dibawah boks bayi kami (meskipun kami meyakini ini karena rumah kami dekat sawah). Tetangga juga beberapa kali mendengar suara bising di rumah kami tengah malam, kata dia asal suara dari atas, padahal kami semua lelap tidur. Seorang pembantu rumah tangga tetangga sebelah juga bilang rumah kami ada gendruwonya. Keponakan saya juga tidak mau bertandang ke rumah tantenya ini, horor katanya. Saya sendiri juga sering melihat kelebatan-kelebatan warna hitam. Abel, anak kami, juga pernah melihat sosok hitam di tengah sawah saat pergantian hari. Kata ibu saya, mungkin karena banyak lukisan yang dipajang di rumah, jadi banyak makhluk ghaib yang mampir. Tengah malam sekitar pukul 12.00 saat pulang aktifitas, saya dan suami melihat sosok perempuan menyeberang jalan dan tiba-tiba hilang. Ini versi saya. Versi pengalaman suami ada banyak juga, tapi dia jarang mau cerita ke saya. Saya merinding lho sambil mengetik ini hehe.

Tapi semuanya itu saya tepis, toh nyatanya saya masih bertahan tinggal di rumah ini hingga 8 tahun sekarang. Tinggal bersama mereka yang tidak kelihatan itu. Saya sangat mencintai rumah mungil saya ini. Rumah ini adalah rumah pertama yang saya bisa beli dari hasil jerih payah saya sendiri. Yang penting rumah selalu kondisi bersih, rapi, terang, sinar matahari cukup masuk. Nah, sekarang tentang nama dusun Druwo. Namanya aneh ya? Kayak-kayak nyerempet Gendruwo begitu. Dan ternyata, setelah 8 tahun tinggal di dusun ini, baru sekarang dapat jawabannya. Simak cerita berikut ini.

Areal persawahan di Dusun Druwo
Dahulu kala, terdapat legenda di sebuah kampung pinggiran kota Yogyakarta. Kampung tersebut bernama Druwo. Kampung ini dihuni oleh para warga yang mayoritas bermata pencaharian bercocok tanam yaitu petani. Akan tetapi, warga selalu merasa kecewa akan hasil panen mereka.  Setiap akan panen, hasil ladang mereka selalu rusak. Hanya hasil yang cukup untuk mereka bertahan hidup.

Warga Druwo sudah mengetahui keberadaan makhlus halus disekitar mereka. Karena kampung itu juga terdapat sebuah kerajaan makhluk halus, yaitu kerajaan Gendruwo. Hanya saja pada setiap malam warga tidak bisa menjaga tanaman mereka. Karena setiap malam, warga ketakutan akan kehadiran para makhlus halus yang hidup berdampingan dengan para warga.

Suatu malam, datanglah seorang pedagang gerabah dari kampung Kasongan. Ternyata, pedagang itu kemalaman akan jalan menuju pulangnya, hingga dia memutuskan untuk menginap di salah satu rumah warga kampung Druwo. Mbah Amat adalah warga yang di tuakan di kampung setempat. Mbah Kaum warga memanggilnya.

Pedagang itu meminta ijin kepada Mbah Amat untuk menginap di singgasana nya, tapi Mbah Amat tidak punya tempat yang layak untuk pedagang itu menginap. Hanya di emperan teras rumah tempat yang tersisa. Pedagang itu pun sangat berterima kasih sudah diijinkan menginap di terasnya.

Akan tetapi,… Mbah Amat, menghimbau kepada pedagang itu, agar hati-hati dan waspada karena setiap malam di kampung itu banyak gendruwo berkeliaran. Pedagang itupun tak masalah karena dia disitu hanya menumpang istirahat dan sudah minta ijin kepada yang punya rumah.

Malam telah larut, apa yang dikatakan Mbah Amat ternyata benar terjadi. Pedagang itu di datangi sesosok Gendruwo. Pedagang itu tidak menyangka bahwa akan sesosok Gendruwo yang memberikan dia hadiah berupa emas picis rojobrono.

Kabar mulai tersebar dari mulut ke mulut. Warga mulai hilang akal. Warga berlomba-lomba untuk mendapatkan apa yang didapat oleh pedagang gerabah itu. Setelah sesosok Gendruwo itu muncul dan mendatangi para warga, diberikanlah seonggok bawung yang berupa emas. Warga pun gembira ria mendapatkannya. Setelah Gendruwo itu pergi, bawung yang berupa emas itu ternyata berubah menjadi Lethong Kebo (kotoran Kerbau).
Warga kembali lagi beraktifitas bercocok tanam di kemudian hari. Warga hanya berserah diri pada yang Maha Kuasa agar hasil panen mereka melimpah. Akan tetapi, para Gendruwo tidak akan membiarkan itu terjadi.

Mbah Amat atau Mbah Kaum juga menjadi korban akan keganasan para Gendruwo itu. Ladang jagung Mbah Amat telah rusak, hingga Mbah Amat tidak bisa memanennya. Mbah Amat tidak tinggal diam. Mbah Amat melakukan ritual (lelaku) untuk mengantisipasi agar para Gendruwo itu bisa ditanganinya.

Setelah itu, Mbah Amat menunggu kehadiran Gendruwo diladangnya. Para Gendruwo itu datang dan merusak ladang warga. Dengan penuh persiapan, Mbah Amat membawa tombak dan menyerang para Gendruwo itu. Di tombak lah Gendruwo itu oleh Mbah Amat dan mengenai salah satu Gendruwo itu, tak luput dia adalah pimpinan para Gendruwo.
“Yoh kowe Amat, Aku ra nrimak e banget marang kowe nganti mateni Aku. Titenono sak anak putumu bakal tak tumpas kelor”.  (Ya kamu Amat, aku tidak terima karena kamu membunuhku. Ingatlah bahwa anak cucumu akan kuhabisi). Akhirnya, matilah pimpinan Gendruwo itu.

Pesan itu terngiang hingga kini. Tidak ada keturunan keluarga Mbah Amat yang menjadi Kaum atau Dukun Bayi. Hingga kini tidak ada warga Druwo yang berprofesi seperti Mbah Amat, sebagai Kaum atau Dukun Bayi. Bila ada yang berprofesi demikian, maka selalu sakit. Maka warga Druwo akan mengundang Kaum atau Dukun Bayi dari dusun seberang.
Setelah kejadian itu, warga kampung Druwo sangat berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena mereka telah diberi jalan untuk memusnahkan pengganggu dalam hasil bercocok tanam. Dan hingga kini hasil panen selalu melimpah. Tak lupa warga selalu bersyukur kepada-Nya, Tuhan Yang Maha Esa.

Konon katanya, tanah tempat mayat Gendruwo dikubur selalu tinggi menggunung. Gundukan tanah sudah diambil, eh esok harinya menggunung lagi, demikian seterusnya. Akhirnya warga memutuskan untuk membangun Masjid diatas kuburan Gendruwo tersebut. Masjid itu masih aktif hingga ini dipakai untuk aktifitas ibadah dan diberi nama Masjid Al-Hidayah.




Sumber tulisan Legenda Dusun Druwo ini dari berbagai tokoh masyarakat di dusun tersebut. Tulisan ini muncul untuk kebutuhan karnaval budaya peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke 72, bulan Agustus lalu. Dalam karnaval tersebut, diperankan adegan saat Mbah Amat menusuk Gendruwo dengan tombak. Beberapa warga berjalan beriringan sambil membunyikan alat musik tradisional. Sambil beraksi, para warga membagikan fotokopian tulisan Legenda Dusun Druwo supaya orang yang menonton karnaval paham apa yang diperankan dalam adegan tersebut. Demikianlah Legenda Dusun Druwo, boleh percaya boleh tidak J